Korosi umumnya dipahami sebagai proses degradasi material akibat reaksi elektrokimia antara logam dan lingkungannya. Namun, pada kondisi tertentu, aktivitas mikroorganisme juga dapat mempercepat terjadinya korosi. Fenomena ini dikenal sebagai Microbiologically Influenced Corrosion (MIC).

MIC merupakan salah satu mekanisme korosi yang banyak ditemukan pada sistem perpipaan, tangki penyimpanan, fasilitas pengolahan air, hingga industri minyak dan gas. Kerusakan akibat MIC sering kali sulit dideteksi pada tahap awal karena berlangsung di bawah lapisan biofilm yang terbentuk di permukaan logam.
Memahami mekanisme, penyebab, dan cara pengendalian MIC menjadi langkah penting dalam menjaga keandalan aset industri serta mencegah kerugian akibat kegagalan peralatan.

1. Apa Itu Microbiologically Influenced Corrosion (MIC)?
Microbiologically Influenced Corrosion (MIC) adalah proses korosi yang dipengaruhi atau dipercepat oleh aktivitas mikroorganisme seperti bakteri, jamur, maupun alga.
Mikroorganisme tersebut membentuk biofilm, yaitu lapisan tipis yang menempel pada permukaan logam. Biofilm dapat mengubah kondisi kimia di sekitar permukaan logam sehingga mempercepat proses korosi.

Perlu dipahami bahwa mikroorganisme bukan penyebab utama korosi, tetapi keberadaannya dapat mempercepat mekanisme korosi yang sudah ada.

2. Bagaimana MIC Terjadi?
Proses MIC umumnya diawali dengan menempelnya mikroorganisme pada permukaan logam.
Tahapan yang terjadi meliputi: pembentukan biofilm,
pertumbuhan koloni mikroorganisme, perubahan kondisi kimia di sekitar permukaan logam, terbentuknya sel korosi lokal, percepatan laju korosi. Karena berlangsung di bawah biofilm, kerusakan sering tidak terlihat hingga mencapai tingkat yang cukup serius.

Lihat Juga  Fitness For Service (FFS): Menentukan Kelayakan Operasi Peralatan yang Mengalami Korosi

3. Mikroorganisme yang Berperan dalam MIC
Beberapa jenis mikroorganisme yang sering dikaitkan dengan MIC antara lain:

a. Sulfate Reducing Bacteria (SRB)
SRB merupakan kelompok bakteri yang paling sering dikaitkan dengan MIC. Bakteri ini menghasilkan hidrogen sulfida (H₂S) yang dapat meningkatkan korosivitas lingkungan.

b. Sulfur Oxidizing Bacteria (SOB)
Bakteri ini menghasilkan senyawa asam yang dapat mempercepat penurunan kualitas material logam

c. Iron Bacteria
Bakteri besi dapat membentuk endapan yang memicu terbentuknya area korosi lokal pada permukaan logam.

d. Mikroorganisme Lain
Jamur, alga, dan bakteri lain juga dapat membentuk biofilm yang berkontribusi terhadap terjadinya MIC pada kondisi tertentu.

4. Faktor yang Mempengaruhi MIC
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko MIC meliputi:
Kelembapan Tinggi, Lingkungan yang lembap mendukung pertumbuhan mikroorganisme.

Air yang Menggenang
Sistem dengan aliran lambat atau air yang tergenang lebih rentan terhadap pembentukan biofilm.

Temperatur
Sebagian besar mikroorganisme berkembang dengan baik pada temperatur sedang.

Nutrisi
Keberadaan senyawa organik dan mineral dalam air menjadi sumber nutrisi bagi mikroorganisme.
Kondisi Permukaan
Permukaan yang kasar atau telah mengalami korosi lebih mudah menjadi tempat melekatnya biofilm.

5. Dampak MIC pada Infrastruktur Industri
MIC dapat menyebabkan berbagai bentuk kerusakan, seperti: pitting corrosion (korosi sumuran), penipisan material, kebocoran sistem perpipaan, kerusakan tangki penyimpanan, penurunan umur pakai aset, peningkatan biaya pemeliharaan, hingga penghentian operasi (shutdown) yang tidak direncanakan.

Lihat Juga  Korosi Logam dan Cara Pencegahannya

6. Bagaimana MIC Dideteksi?
Deteksi MIC memerlukan kombinasi beberapa metode inspeksi, antara lain:

Visual Inspection
Mengidentifikasi indikasi awal seperti lendir (slime), perubahan warna, atau endapan.
Ultrasonic Thickness Measurement (UT)
Digunakan untuk mengetahui penurunan ketebalan material akibat korosi.

Analisis Mikrobiologi
Pengambilan sampel air atau biofilm dilakukan untuk mengidentifikasi jenis dan jumlah mikroorganisme.

Monitoring Korosi
Corrosion coupon dan probe korosi dapat digunakan untuk memantau laju korosi secara berkala.

7. Cara Mencegah dan Mengendalikan MIC
Beberapa langkah yang umum diterapkan di industri antara lain: Menjaga Kebersihan Sistem, Pembersihan berkala membantu mengurangi pembentukan biofilm.

Mengendalikan Kualitas Air
Mengurangi kandungan nutrisi dan endapan dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme.

Penggunaan Biocide
Biocide digunakan untuk mengendalikan populasi mikroorganisme sesuai prosedur operasional dan ketentuan keselamatan.

Monitoring Berkala
Pemantauan kondisi sistem membantu mendeteksi potensi MIC sejak dini.
Material dan Coating yang Tepat
Pemilihan material tahan korosi dan penggunaan coating yang sesuai dapat mengurangi risiko terjadinya MIC.

8. Hubungan MIC dengan Asset Integrity Management
Dalam Asset Integrity Management (AIM), MIC merupakan salah satu mekanisme degradasi yang harus dipertimbangkan dalam pengelolaan aset.

Lihat Juga  Korosi pada Lapisan Pelindung Logam

Data hasil inspeksi MIC dapat digunakan untuk:
menentukan jadwal inspeksi,
mendukung Risk Based Inspection (RBI),
melakukan Remaining Life Assessment (RLA),
mengevaluasi Fitness For Service (FFS),
serta menyusun strategi pemeliharaan yang lebih efektif.

Kesimpulan
Microbiologically Influenced Corrosion (MIC) merupakan korosi yang dipercepat oleh aktivitas mikroorganisme melalui pembentukan biofilm pada permukaan logam.
Meskipun sering tidak terlihat pada tahap awal, MIC dapat menyebabkan kerusakan serius pada sistem perpipaan, tangki, dan berbagai fasilitas industri apabila tidak dikendalikan.
Melalui inspeksi berkala, pengendalian kualitas air, penggunaan biocide, serta penerapan Asset Integrity Management, risiko MIC dapat diminimalkan sehingga keselamatan dan keandalan aset industri tetap terjaga.

Referensi
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Publikasi mengenai mikrobiologi industri, degradasi material, dan pengendalian korosi.
Badan Standardisasi Nasional (BSN). SNI ISO 55001:2019 Sistem Manajemen Aset – Persyaratan.
Jurnal Teknik ITS. Kajian mengenai Microbiologically Influenced Corrosion pada sistem perpipaan dan fasilitas industri.
Jurnal Teknik Mesin Universitas Diponegoro. Penelitian tentang pengaruh aktivitas mikroorganisme terhadap laju korosi logam.
Jurnal Politeknik Negeri Bandung. Studi monitoring korosi dan metode inspeksi pada fasilitas industri.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM). Pedoman pengelolaan integritas fasilitas minyak dan gas.

By indocor