Korosi adalah salah satu permasalahan paling umum dan merugikan dalam dunia teknik dan industri pada berbagai jenis komponen, terutama yang terbuat dari logam. Baik komponen mesin, struktur bangunan, pipa, maupun perangkat elektronik yang memiliki bagian logam rentan mengalami korosi jika terpapar lingkungan yang agresif seperti udara lembap, zat kimia, atau air. Fenomena ini tidak hanya menyebabkan kerusakan visual berupa karat, tetapi jauh lebih penting lagi dapat menurunkan performa dan fungsi komponen secara signifikan, serta mempercepat kegagalan operasi suatu sistem. Untuk itu, penting bagi insinyur, teknisi, atau pemilik aset industri memahami secara detail mengenai korosi pada komponen, dari penyebab sampai upaya pencegahannya.
Pengertian Korosi pada Komponen
Korosi pada komponen adalah proses degradasi atau perusakan material logam yang terjadi akibat interaksi kimia atau elektrokimia antara material komponen dan lingkungan di sekitarnya. Proses ini biasanya terjadi ketika logam bereaksi dengan elemen seperti air (H₂O), oksigen (O₂), asam, garam, atau zat korosif lainnya yang memicu reaksi oksidasi pada permukaan logam tersebut. Akibatnya, struktur logam akan kehilangan atom-atomnya secara bertahap dan berubah menjadi senyawa oksida yang lemah, misalnya besi menjadi karat (oksida besi).
Penyebab Korosi pada Komponen
Korosi tidak terjadi secara instan, tetapi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang bekerja bersama-sama. Beberapa penyebab utama korosi pada komponen antara lain:
1. Paparan Air dan Kelembapan Udara
Komponen logam yang berada di lingkungan dengan kelembapan tinggi atau kontak langsung dengan air akan lebih cepat mengalami korosi. Air bertindak sebagai media elektrolit yang memfasilitasi terjadinya reaksi elektrokimia antara logam dan oksigen di udara.
2. Oksigen di Lingkungan
Oksigen adalah salah satu faktor yang paling berperan dalam proses korosi karena oksigen mengikat elektron dari logam, sehingga logam kehilangan massa dan mulai terdegradasi.
3. Kehadiran Elektrolit (Asam atau Garam)
Air laut atau larutan garam mempercepat laju korosi karena ion-ion dalam larutan bertindak sebagai media penghantar listrik yang baik untuk reaksi elektrokimia.
4. Perbedaan Potensial Logam (Korosi Galvanik)
Jika dua logam dengan potensial elektroda berbeda bersentuhan di lingkungan lembap, akan terbentuk sel galvanik yang mempercepat korosi pada logam yang memiliki potensial lebih rendah.
5. Kondisi Permukaan Logam
Permukaan logam yang kasar, tergores, atau memiliki retakan rentan mengalami korosi lebih cepat karena menyediakan area permukaan lebih besar untuk reaksi dengan lingkungan.
Jenis-Jenis Korosi pada Komponen
Korosi dapat terjadi dalam berbagai bentuk tergantung kondisi lingkungan dan jenis material. Beberapa jenis korosi yang umum terjadi pada komponen meliputi:
1. Korosi Seragam (Uniform Corrosion)
Terjadi merata di seluruh permukaan logam sehingga menyebabkan penurunan ketebalan material secara keseluruhan.
2. Korosi Pitting
Korosi lokal yang menghasilkan lubang-lubang kecil namun dalam pada permukaan material, sering sulit terdeteksi hingga kerusakan cukup parah.
3. Korosi Galvanik
Terjadi ketika dua logam berbeda saling bersentuhan di lingkungan yang korosif, mempercepat laju korosi salah satu logam.
4. Korosi Celah (Crevice Corrosion)
Korosi yang terjadi di daerah sempit, retakan, atau sambungan yang kurang ventilasi sehingga air atau cairan korosif tertahan.
5. Korosi Retak Tegang (Stress Corrosion Cracking)
Terjadi ketika material logam berada di bawah tegangan mekanis sambil terpapar lingkungan korosif, dapat menyebabkan retakan internal dan kegagalan tiba-tiba.
Dampak Korosi pada Komponen
Korosi yang tidak dikendalikan dapat menyebabkan dampak serius, antara lain:
-
Penurunan Kekuatan Material – Korosi meningkatkan keretakan dan keausan sehingga material menjadi rapuh dan mudah patah.
-
Kegagalan Fungsi Komponen – Komponen yang terkorosi dapat kehilangan toleransi desain, menyebabkan kegagalan dalam operasi mesin atau peralatan.
-
Biaya Perawatan dan Penggantian Tinggi – Korosi yang dibiarkan akan memperpendek masa pakai komponen, meningkatkan kebutuhan perbaikan atau penggantian.
-
Risiko Keselamatan – Komponen yang rapuh akibat korosi dapat menyebabkan kecelakaan kerja, misalnya kegagalan struktur atau malfunction pada mesin.
Upaya Pencegahan Korosi pada Komponen
Agar komponen logam dapat bertahan lama dan berfungsi dengan optimal, beberapa langkah pencegahan korosi dapat diterapkan:
1. Pelapisan Pelindung (Coating)
Melapisi permukaan komponen dengan cat, epoxy, lapisan anti-karat atau lapisan pelindung lainnya untuk menghalangi kontak langsung dengan lingkungan korosif.
2. Proteksi Katodik
Metode proteksi katodik menggunakan anoda korban atau arus listrik untuk mengurangi laju korosi elektrokimia terutama pada struktur bawah tanah atau pipa.
3. Pemilihan Material Tahan Korosi
Memilih material yang lebih tahan terhadap korosi seperti stainless steel, paduan aluminium, atau material khusus sesuai kondisi lingkungan.
4. Kontrol Lingkungan
Mengurangi paparan kelembapan dan zat korosif melalui pengaturan suhu, kelembapan, serta ventilasi pada area penyimpanan dan operasi.
5. Inspeksi dan Pemeliharaan Berkala
Pemeriksaan regular terhadap komponen logam untuk mendeteksi tanda-tanda awal korosi dan melakukan tindakan preventif sebelum kerusakan meluas.
Kesimpulan
Korosi pada komponen logam adalah proses degradasi material yang disebabkan oleh reaksi kimia atau elektrokimia dengan lingkungan di sekitarnya. Fenomena ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk seperti korosi seragam, pitting, galvanik, atau celah, tergantung pada kondisi lingkungan dan jenis material yang digunakan. Dampaknya sangat merugikan, mulai dari penurunan fungsi komponen hingga berdampak pada keselamatan dan biaya operasional. Namun, dengan strategi pencegahan yang tepat seperti pelapisan pelindung, pemilihan material yang baik, dan inspeksi berkala, laju korosi dapat dikendalikan dan masa pakai komponen dapat diperpanjang secara signifikan.
Referensi:
Direktorat Jenderal Industri Logam, Pedoman Pencegahan Korosi Komponen Logam Industri, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Jakarta, 2019.
