Stainless steel dikenal sebagai material yang tahan terhadap korosi. Namun, dalam praktiknya, material ini tetap dapat mengalami karat atau degradasi jika berada dalam kondisi tertentu. Hal ini telah dibuktikan dalam berbagai penelitian ilmiah, termasuk dari jurnal-jurnal di Indonesia.

Apa Itu Stainless Steel?

Stainless steel adalah baja paduan yang mengandung minimal 10,5% kromium. Kandungan ini membentuk lapisan pelindung tipis (passive layer) yang mampu mencegah oksidasi lebih lanjut pada permukaan material. Namun, lapisan ini tidak sepenuhnya kebal terhadap kerusakan.

Penyebab Stainless Steel Bisa Berkarat :Mengapa Stainless Steel Tetap Bisa Berkarat?

1. Kerusakan Lapisan Pasif

Lapisan pasif dapat rusak akibat gesekan, goresan, atau proses fabrikasi yang tidak tepat. Ketika lapisan ini terganggu, logam di bawahnya akan lebih mudah bereaksi dengan lingkungan dan memicu korosi.

2. Paparan Lingkungan Korosif

Penelitian menunjukkan bahwa stainless steel tetap mengalami korosi dalam lingkungan agresif seperti larutan asam dan limbah industri.

Lihat Juga  Korosi pada Pipa Minyak

Sebagai contoh, penelitian oleh Unesa menunjukkan bahwa stainless steel mengalami peningkatan laju korosi dalam media asam, dan penggunaan coating dapat menurunkan laju tersebut.

3. Pengaruh Ion Klorida (Cl⁻)

Ion klorida yang banyak ditemukan pada air laut atau larutan garam (NaCl) dapat merusak lapisan pasif dan menyebabkan pitting corrosion.

Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa stainless steel 316L tetap mengalami korosi dalam larutan NaCl, meskipun dikenal lebih tahan dibanding grade lainnya.

4. Kontaminasi dan Lingkungan Kerja

Kontaminasi dari partikel besi atau baja karbon dapat memicu terbentuknya karat pada permukaan stainless steel. Hal ini sering terjadi pada lingkungan industri yang tidak terkontrol dengan baik.

5. Faktor Mekanis dan Proses Fabrikasi

Proses seperti pengelasan dan adanya tegangan pada material dapat menyebabkan stress corrosion cracking. Studi dari Universitas Padjadjaran menunjukkan bahwa kegagalan pada stainless steel dapat dipicu oleh kombinasi tegangan dan lingkungan korosif.

Lihat Juga  7 Cara Pencegahan Korosi Dalam Kehidupan Sehari-hari

Jenis Korosi pada Stainless Steel

Beberapa jenis korosi yang umum terjadi antara lain:

1. Pitting corrosion (korosi lubang kecil)

2. Crevice corrosion (korosi celah)

3. Galvanic corrosion

4. Stress corrosion cracking

Penelitian tentang pitting corrosion pada stainless steel 304 menunjukkan bahwa korosi lokal dapat terjadi akibat perbedaan potensial pada permukaan material.

Cara Mencegah Stainless Steel Berkarat Untuk memaksimalkan ketahanan stainless steel :

– Gunakan grade yang sesuai (misalnya 316 untuk lingkungan laut)

– Hindari paparan klorida berlebih

– Lakukan pembersihan rutin

– Gunakan prosedur fabrikasi yang benar

– Hindari kontaminasi logam lain

Kesimpulan

Stainless steel bukan material yang sepenuhnya kebal terhadap karat. Dalam kondisi tertentu seperti lingkungan asam, paparan klorida, serta faktor mekanis, material ini tetap dapat mengalami korosi.

Lihat Juga  Coating pada Beton

Dengan pemilihan material yang tepat dan perawatan yang baik, risiko korosi dapat diminimalkan secara signifikan.

Referensi :

Prabowo, A., dkk. (2020). Analisis Pengaruh Coating terhadap Laju Korosi Stainless Steel 316L. Jurnal Teknik Mesin Unesa.

Sari, D. P., dkk. (2015). Analisa Laju Korosi Stainless Steel 304 pada Media Nira Aren. Jurnal Teknik Mesin Unesa.

Putra, R. A., dkk. (2019). Analisis Laju Korosi Stainless Steel dalam Medium H₂SO₄. Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika, Universitas Lampung.

Sinaga, H., dkk. (2018). Analisa Korosi Stainless Steel 316L dalam Larutan NaCl. Jurnal Mechanical, Universitas HKBP Nommensen.

Ramadhan, F., dkk. (2021). Analisis Korosi Stainless Steel pada Limbah Bioetanol. Jurnal Majamecha.

Fauzi, M., dkk. (2020). Studi Pitting Corrosion pada Stainless Steel 304. Jurnal ARTSIP.

Nugraha, D., dkk. (2020). Analisa Kegagalan Pengelasan Stainless Steel. Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika, Universitas Padjadjaran.

By indocor