Tentang Kami

A. Pendahuluan
Bidang korosi merupakan suatu bidang yang ditekuni oleh berbagai kalangan, baik kalangan industri, pemberi jasa atau konsultan, maupun peneliti dan perguruan tinggi. Penanganan masalah korosi dilakukan secara multidisiplin, yang memerlukan kerjasama para praktisi dari berbagai disiplin ilmu, misalnya: disiplin ilmu pertambangan, metalurgi, teknik kimia, perminyakan, sipil, biologi dan lain sebagainya.

Ditinjau dari bidang kerjanya, banyak pihak yang berkepentingan dengan masalah korosi. Disatu pihak ada yang mengalami kerugian akibat serangan korosi seperti industri logam dan mesin ; ada juga pihak yang berkepentingan dengan usaha penanggulangan korosi melalui penyediaan material yang handal terhadap lingkungan tertentu, penyediaan bahan pelapis yang tahan lama, penyediaan sistim dan teknologi perlindungan; ada pihak yang menekuni penelitian dan pengembangan material, pengembangan metoda-metoda penanggulangan korosi seperti proteksi katodik-anodik, teknik inhibisi; dan akhirnya ada pihak-pihak yang bergerak dalam pemberian jasa konsultasi yang melakukan kegiatan problem solving dan desain sistem proteksi.

Hampir semua sektor industri mempunyai permasalahan dengan korosi. Misalnya sektor industri logam, industri perhubungan, industri pertambangan dan energi, pekerjaan umum, industri pertanian dan lain sebagainya. Permasalahan yang timbul dapat berupa kerusakan, umur pakai barang yang tidak memenuhi harapan sampai pada faktor keamanan yang tidak memadai.

Oleh karena itu pengembangan sumber daya manusia dan teknologi di dalam negeri, akan sangat membantu masyarakat untuk mendapatkan biaya penanggulangan yang relatif murah, dan mendapatkan alternatif pemecahan yang didasari oleh kemampuan sendiri.

B. Latar Belakang
Pada tahun 1967 / 1968 sebelum memasuki tahap pembangunan jangka panjang yang pertama, pemerintah Indonesia meminta ECAFE (Economic Comission for Asia and Far East) untuk melakukan survey pada industri-industri yang ada di Indonesia. Hasil survey dari ECAFE menunjukkan bahwa pada industri-industri tersebut, terdapat berbagai masalah yang perlu mendapatkan penanganan segera, antara lain permasalahan korosi yang merupakan suatu permasalahan yang serius.

Oleh karena itu maka dibentuklah Tim Korosi Indonesia untuk mengkaji kondisi di Indonesia yang beranggotakan personil dari berbagai instansi, dan berada di bawah koordinasi B4T (Balai Besar Bahan dan Barang Teknik) yang diketuai oleh Ir. J. Kusnadi, yang pada saat itu menjabat sebagai direktur B4T. Dipilihnya B4T sebagai koordinator didasarkan pada alasan bahwa masalah korosi yang besar terdapat di sekitar industri.

Instansi-instansi yang terkait dalam Tim Korosi Indonesia adalah LIPI, B4T, PINDAD, BATAN, PALAD dan AURI. Selanjutnya diadakan survey oleh Tim Korosi Indonesia ke instansi dan industri di berbagai daerah di seluruh tanah air. Dari hasil survey tersebut tim berpendapat bahwa kondisi korosi di Indonesia ada pada tingkat yang cukup parah. Hasil survey selanjutnya dievaluasi oleh Tim Korosi Indonesia, dan koordinasinya dipindahkan ke LIPI pada tahun 1969.

Pada tahun 1973, diadakan pertemuan korosi ASEAN yang pertama di Manila. Oleh karena forum tersebut merupakan suatu forum yang penting, maka Indonesia bermaksud berpartisipasi dalam forum tersebut. tetapi karena Indonesia belum mempunyai organisasi yang mapan dalam bidang korosi, maka dirasa perlu membentuk organisasi tersebut sebelum forum ASEAN dimulai.

Atas prakarsa anggota Tim Korosi Indonesia, maka pada tanggal 19 Januari 1973, dengan Akte Notaris Mochtar Railan di Jalan Purnawarman Bandung, dibentuklah suatu organisasi profesi yang diberi nama INDOCOR yang merupakan singkatan dari Indonesian Corrosion Association atau Asosiasi Korosi Indonesia yang berkedudukan di Bandung.

Pengurus INDOCOR selanjutnya dipegang oleh para ahli, antara lain:
1. Dr. Ir Tri Wibowo. M.Sc (BPPT) – President INDOCOR
2. Ir. Nizhamul Latif M.Sc (BPPT) – Wakil INDOCOR
3. Ir. Ronald Nasoetion (LIPI) – Sekjen INDOCOR
4. Drs. Sundjono (LIPI) – Ketua Komisi Hubungan Industri
5. Ir. Fadjar Karyapradja M.Eng (BPPT) – Anggota Komisi Hubungan Industri
6. Ir. Eddy Sumarsono (BPPT) – Anggota Komisi Hubungan Industri
7. Dr. Ir. Rini Riastusti, M.Sc (UI) – Ketua Komisi Sertifikasi
8. Elfida Moralista S.Si, MT (UNISBA) – Anggota Komisi Sertifikasi
9. Dr. Ir. Andi Rustandi (UI) – Ketua Komisi Teknik, Penelitian & Pengembangan

Sejak masa berdirinya, maka kepengurusan INDOCOR dipegang oleh personil dari berbagai instansi, yaitu :
1973 -1982 Ir. J. Kusnadi (B4T)
1982 – 1990 Ir. Ronald Kastanya (PINDAD)
1990 – 1995 Dr.Ir. A. Sulaeman (LIPI)
1995 – 2002 Dr.Ir. Bambang Widyanto (ITB)
2002 – 2014 Dr.Ir. Bambang Widyanto (ITB)
2014 – Sekarang Dr. Ir. Tri Wibowo. M.Sc (BPPT)

C. Asosiasi Korosi Indonesia Saat ini
Perkembangan industri yang semakin pesat mengakibatkan penggunaan logam yang semakin banyak, sehingga masalah korosipun akan semakin meningkat. Dengan meningkatnya masalah korosi, maka akan meningkat pula biaya yang harus dikeluarkan untuk mengendalikannya. Secara umum, biaya pengendalian korosi di suatu negara berkisar antara 2-5 % GNP. Ekonomisasi dan efisiensi akan dapat menekan biaya penanggulangan korosi, disinilah peran dari para ahli korosi yang kompeten dibutuhkan.

Tetapi jumlah SDM yang berkompeten untuk menanggulangi masalah ancaman tersebut masih relatif kurang, sehingga di era perdagangan bebas nanti akan membanjirnya tenaga-tenaga asing terampil untuk mengambil bagian dalam mengendalikan masalah-masalah korosi di Indonesia.

Melihat situasi di atas, maka dipandang perlu untuk menyiapkan tenaga-tenaga Indonesia yang qualified (certified) dan kompeten yang mampu mengendalikan masalah-masalah korosi di industri yang ada di Indonesia. Indocor merupakan organisasi profesi yang concern terhadap masalah korosi, pengendalian dan termasuk pengembangan SDM sejak lama, namun sampai saat ini jumlah dan kualifikasi SDM yang tersertifikasi masih relatif sedikit di banding dengan jumlah masalah korosi yang ada di industri, sehingga INDOCOR berusaha lebih keras lagi untuk mengembangkan usaha pengendalian korosi khususnya pengembangan SDM.

Untuk merealisasikan hal tersebut Indocor menjadi inisiator dan bekerjasama dengan institusi terkait seperti Depnaker dan BNSP akan merumuskan SKKNI (Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) bidang Korosi dan Pengendaliannya sehingga dapat membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi Korosi dan Pengendaliannya yang independent yang mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut :

1. Mempunyai kompetensi dalam melaksanakan akreditasi badan yang berkaitan dengan korosi dan pengendaliannya, yaitu
misalnya badan yang mampu melakukan training (Authorized Training Body), badan yang mampu melakukan pengujian,
biro konsultasi, dan lain-lain.
2. Mempunyai kompetensi dan otoritas dalam melaksanakan sertifikasi personil terhadap SDM yang telah mengikuti
pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh suatu Authorized Training Body, atau untuk personil-personil yang
punya potensi atau telah bekerja cukup lama di bidang korosi dan pengendaliannya, yang ingin mendapatkan
pengakuan (sertifikasi) secara nasional atau bahkan internasional.
3. Mempunyai kompetensi dalam melaksanakan atau membuat regulasi, standard, spesifikasi dan kode etik.
4. Mempunyai potensi untuk menghimpun seluruh Ahli Korosi di Indonesia.

D. Visi dan Misi
Visi
Melakukan usaha pengembangan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang tinggi serta penguasaan teknologi dalam bidang penanggulangan korosi, untuk memecahkan permasalahan korosi nasional dengan potensi sendiri, dan untuk menjawab tantangan era globalisasi dan pasar bebas.

Misi
Melakukan pengembangan sumber daya manusia yang peduli terhadap lingkungan dan bertaqwa pada Tuhan YME, melalui kegiatan pelatihan, seminar, tukar menukar informasi dan lain-lain, yang dapat menjawab tuntutan nasional dan global.
Meningkatkan kepedulian terhadap masalah korosi di Indonesia dan usaha penanggulangannya. Menggalang kerjasama yang harmonis diantara para praktisi korosi dan pihak lain yang peduli dengan masalah korosi di Indonesia.
Melakukan komunikasi yang baik dengan berbagai lembaga baik Nasional maupun Internasional. Membuat regulasi dan standard yang sesuai dengan kebutuhan nasional dan dapat dipakai untuk kebutuhan pengendalian korosi di Indonesia.
Melakukan pengembangan teknologi pengendalian korosi di dalam negeri

E. Sasaran INDOCOR
Tujuan, landasan dan rencana kerja Asosiasi Korosi Indonesia (INDOCOR) tertuang dalam Anggaran Dasar INDOCOR, yang pada prinsipnya bertujuan untuk menunjang pembangunan di Indonesia dalam arti yang luas khususnya dalam bidang pengendalian korosi yang dapat menghasilkan efisiensi dan meningkatkan produktivitas di industri.

F. Kegiatan Asosiasi Korosi Indonesia
Sejak berdiri hingga saat ini, INDOCOR telah banyak melakukan kegiatan yang bertaraf nasional maupun internasional, antara lain :

• Pada tahun 1974, mengadakan Seminar dan Workshop pertama dalam bidang korosi, bekerjasama dengan B4T di Bandung.
• Pada tahun 1982, bekerjasama dengan LIPI dan Departemen Perindustrian, mengadakan Seminar
• Korosi Nasional di Jakarta.
• Pada tahun 1976 dalam partisipasinya di International Congress on Metallic Corrosion (ICMC) di Sydney,
INDOCOR diterima menjadi anggota International Corrosion Council (ICC). Selama tiga periode 1976 – 1985,
keanggotaan ini diwakili oleh Ir. A. Sulaeman.
• INDOCOR berperan aktif pula dalam Asia Pacific Material and Corrosion Association (ADMACA), dan pada saat
ini ikut serta dalam kepengurusannya, yang diwakili oleh Dr.Ir. Rochim Suratman.
• Hubungan dengan National Association of Corrosion Engineers (NACE) – Amerika juga dijalin dengan baik sejak
tahun 1977 dan pada saat ini beberapa anggota INDOCOR juga menjadi anggota dari NACE.
• INDOCOR bekerjasama dengan LIPI berkesempatan pula mengadakan “ASEAN Marine Corrosion
• Course” di Puncak, atas biaya Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE).
• Antara tahun 1987 – 1992, anggota INDOCOR turut berpartisipasi dalam penelitian ASEAN-Jepang dalam bidang
korosi.
• Pada bulan November 1993, bekerjasama dengan LIPI dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Jepang, INDOCOR mengadakan
“Asia-Pasific Conference in Various Environment” di Bandung.
• Pada bulan April 1995, INDOCOR bekerjasama dengan LAPI – ITB, mengadakan “Kursus Korosi Tingkat Dasar” untuk
Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI). Kursus ini merupakan suatu kursus pertama yang dipersiapkan untuk
mendapatkan akreditasi dari instansi pemerintah, maupun organisasi profesi internasional.
• Workshop Korosi Nasional ITB dengan Pusat Studi Korosi ITB. Seminar Galvanisasi Jakarta dengan Asosiasi
Galvanisasi Indonesia. Seminar Korosi Asia-Pasifik Bali dengan APMACA.
• Seminar Korosi Nasional, 2001 di Bandung.
• Seminar Korosi Nasional, 2004 Jakarta.
• Diskusi Ilmiah tentang korosi pada boiler. 27 – 28 Agustus 2014, BSD City.
• Kerjasama Seminar dengan PT Marintech dan PT UBM dengan tema marine corrosion. 26 – 28 November 2014,
Jakarta.
• Training dan Sertifikasi Corrosion Engineer 30 Mahasiswa, dari UI, ITS dan ITB. 10 – 13 Agustus 2015.
• Workshop Solusi Kerusakan Boiler dan Upaya Penanggulangannya, Case Study, Standard Code, Coal Dan Water
Quality Effect. 27 Agustus 2015, Gedung DRN, PUSPIPTEK.
• Training dan Sertifikasi Corrosion Inspector, 7 orang dari PT Pertagas, PT Lestari Banten dan PT Newmont

Selain kegiatan diatas INDOCOR juga telah melakukan sertifikasi, berkerjasama provider atau ATB dengan list sebagai berikut :
1. Corrosion Inspector sebanyak lebih dari 200 Orang
2. Coating Inspector lebih dari 350 Orang
3. Cathodic Protection lebih dari 250 Orang

INDOCOR saat ini memiliki anggota dari berbagai perusahaan dan instansi / perguruan tinggi lebih dari 2000 Orang.

Sebagai Anggota Forum Organisasi Profesi Ilmiah
Dalam kegiatan-kegiatan tersebut, terlihat bahwa INDOCOR berperan serta dalam dunia penelitian,
peningkatan sumber daya manusia, dan penyelesaian masalah industri, yang secara keseluruhan sesuai dengan tujuan yang dicanangkan dalam Anggaran Dasar INDOCOR. Dan saat ini tercatat sebagai anggota For.Org.Pro.Ilm (FOPI) disamping organisasi profesi lainnya. Konsultasi di bidang korosi kepada anggota lain atau pihak lain yang membutuhkannya.