Penggunaan Bio Inhibitor dalam Pipe Plant Industri Migas

industri-migasKorosi merupakan degradasi mutu suatu material. Dalam sebuah industri migas, korosi merupakan problematika yang sering terjadi. Berbagai macam cara dalam mengendalikannya. Salah satu metodenya adalah penggunaan inhibitor korosi. Saat ini penggunaan bio inhibitor menjadi alternatif baru. Bio inhibitor berbahan alam ini dipilih sebagai alternatif karena sifatnya aman, bersifat biodegradable, biaya murah, ramah lingkungan dan mudah didapat. Dalam paper ini menjelaskan tentang alasan dan mekanisme proteksi dari bahan alam dalam mengendalikan korosi, serta beberapa contoh penggunaan bio inhibitor.

Salah satu masalah penting yang dihadapi oleh kelompok industri maju adalah korosi logam. Peristiwa korosi dapat terjadi dimana saja. Dari peristiwa korosi yang terjadi, dapat menimbulkan kerusakan yang mengakibatkan kerugian baik secara ekonomi ataupun keamanan. Menurut Jones [1], dalam banyak hal, korosi tidak dapat dihindarkan. Hampir semua material apabila berinteraksi dengan lingkungannya secara perlahan tapi pasti, akan mengalami degradasi mutu bahan, pengertian ini didefinisikan sebagai korosi. Proses korosi merupakan suatu gejala alamiah yang merupakan konsekuensi dari siklus hidup. Saudi Aramco melakukan riset tentang biaya korosi yang dikeluarkan pada industri minyak dan pemurnianya[2]. Menurut mereka bahwa 25% biaya perawatan plant gas sweetening dikeluarkan untuk pengendalian korosi, 17% biaya perawatan plant gas fractionation untuk korosi, 28% biaya perawatan operasi produksi onshore, sedangkan pada offshore dibutuhkan 60-70% biaya perawatan untuk korosi. Di Indonesia sendiri secara kuantitatif belum pernah dihitung jumlah kerugian akibat serangan korosi. Dapat diambil gambaran bahwa di Amerika kerugian akibat serangan korosi mencapai 15 miliar dollar per tahun atau sekitar 15 triliun rupiah bila 1 dollar AS diapresiasikan Rp.10.000,00. Seluruh anggaran belanja Negara Indonesia pada tahun anggaran 1999 sekitar 24 triliun rupiah per tahun, jadi jumlah kerugian akibat serangan korosi di Amerika bahkan lebih besar dari setengah anggaran belanja Negara per tahun, sungguh jumlah yang tidak sedikit. Jika jumlah kerugian akibat serangan korosi di Indonesia sebesar kira-kira 10% dari kerugian Amerika, maka jumlahnya mencapai Rp. 1 triliun. Jumlah ini belum mencakup: kehilangan jam produksi, ganti rugi kerusakan, klaim-klaim, biaya perbaikan dan lain-lain.diperkirakan pada tahun 1999 menderita kerugian sebesar 1,5 triliun[3].

Industri minyak dan gas, terutama mengenai eksplorasi, operasi produksi, operator lapangan biasanya ingin memiliki pasokan minyak dan gas bumi yang tidak terputus ke titik eksport atau pengolahan[4]. Pipa-pipa dan komponen perlengkapan dari lining akan mengalami degradasi material dengan berbagai kondisi dari sumur akibat perubahan komposisi fluida, souring sumur, selama periode tertentu, perubahan kondisi operasi tekan, dan suhu. Degradasi material menyebabkan penurunan sifat mekanis seperti kekuatan, keuletan, kekuatan impak, dsb., menyebabkan loss of materials, pengurangan ketebalan dan pada akhirnya mengalami kegagalan[4].

Untuk meminimalkan akibat degradasi material, salah satu metode proteksi yang sering digunakan pada industri minyak adalah dengan penggunaan inhibitor. Penggunaan inhibitor hingga saat ini masih menjadi solusi terbaik untuk melindungi korosi internal pada logam, dan dijadikan sebagai pertahanan utama industri proses dan ekstraksi minyak. Inhibitor merupakan metoda perlindungan yang fleksibel, yaitu mampu memberikan perlindungan dari lingkungan yang kurang agresif sampai pada lingkungan yang tingkat korosifitasnya sangat tinggi, mudah diaplikasikan (tinggal tetes), dan tingkat keefektifan biayanya paling tinggi karena lapisan yang terbentuk sangat tipis sehingga dalam jumlah kecil mampu memberikan perlindungan yang luas.

Berdasarkan bahan dasarnya, inhibitor korosi terbagi menjadi dua, yaitu inhibitor dari senyawa organik dan dari senyawa anorganik[6]. Inhibitor anorganik yang saat ini biasa digunakan adalah sodium nitrit, kromat, fosfat, dan garam seng[7]. Penggunaan sodium nitrit yang harus dengan konsentrasi besar (300-500 mg/l) menjadikannya inhibitor yang tidak ekonomis[8], berdasarkan hasil penelitian[9,10] kromat dan seng ditemukan bersifat toksik, dan fosfat merupakan senyawa yang dianggap sebagai polusi lingkungan, karena menyebabkanpeningkatan kadar fosforous dalam air[11]. Sehingga inhibitor-inhibitor tersebut perlu digantikan dengan senyawa lain yang bersifat nontoksik dan mampu terdegradasi secara biologis, namun tetap bernilai ekonomis dan mampu mengurangi laju korosi secara signifikan.

Silahkan baca selengkapnya di sini –> Penggunaan Bio Inhibitor dalam Pipe Plant Industri Migas

Mungkin Anda juga menyukai